<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3314902044199178265</id><updated>2012-02-16T05:41:32.502-08:00</updated><title type='text'>Ius T Artanto</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://iustartanto.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3314902044199178265/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iustartanto.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>IusTri Artanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10060232459359514792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Tog6MI3Dowg/Sh4qJpopkrI/AAAAAAAAABo/K8BYDBYNV-8/S220/IUS.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>2</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3314902044199178265.post-633237784011766611</id><published>2009-05-27T23:17:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T05:38:29.206-07:00</updated><title type='text'>VIRUS PENIRU MENJANGKITI ARTIS MUSIK POP INDONESIA</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;Meniru karya lagu orang lain, seolah bagai virus yang menjangkiti mayoritas musisi pop Indonesia sejak empat dekade silam hingga kini. Lalu, apakah ini bisa disebut semacam penyakit yang sulit disembuhkan? Dan, mengapa ada istilah meme sebagai biang keladi munculnya ”virus peniru” yang dilontarkan para pakar? &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Oleh : Ius T. Artanto &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sudah bukan rahasia, sejumlah karya musik pop Indonesia didominasi upaya peniruan. Para awam pun sudah mengetahui aksi peniruan atau penjiplakan tersebut. Karena mereka juga punya bukti akurat, yang ditulisnya di blog masing-masing. Dan yang memprihatinkan, si musisi kerap berkelit secara klise melalui tameng peraturan Konvensi Berne, jika mirip lebih dari 8 bar, maka disebut menjiplak. Parahnya, alasan tersebut juga dijadikan ”senjata pembela” bagi para pengamat musik di media massa, khususnya radio dan televisi, yang seharusnya objektif dan kritis. Karena, ketika informasi disampaikan media massa, publik berhak mendapat kebenaran informasi. Tapi faktanya, malah sebaliknya. Informasi mengalami distorsi, hanya karena media mempunyai beragam kepentingan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Yasraf A. Piliang dalam Posrealitas (2004), perbincangan mengenai media tidak dapat dipisahkan dari kepentingan di balik media tersebut, khususnya kepentingan informasi. Ada dua kepentingan utama di balik media, yaitu kepentingan ekonomi dan kepentingan kekuasaan, yang membentuk isi media, informasi yang disajikan, dan makna yang ditawarkannya. Di antara dua kepentingan tersebut, ada kepentingan lebih dasar yang terbaikan, yaitu kepentingan publik. Kuatnya kepentingan ekonomi dan kekuasaan politik menjadikan media tidak dapat netral, jujur, adil, objektif, dan terbuka.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maka, sekalipun media radio dan televisi menyiarkan lagu-lagu pop yang dianggap menjiplak, publik akhirnya menerima lagu-lagu tersebut sebagai hal yang lumrah, karena media menganggapnya sebagai sesuatu yang benar. Pembenaran ini dikuatkan oleh peneguhan dari nara sumber yang berperan sebagai pengamat. Sebab, Alexis S. Tan dalam Mass Communication Theories and Research (1981), berpendapat, media massa bukan sekadar mengubah atau memperkuat opini, sikap dan perilaku, tapi juga menjadi agen sosialisasi dalam menciptakan dan membentuk nilai, persepsi, sikap, perilaku mengenai realitas sosial. Sikap memaklumi dan permisif atas budaya menjiplak lagu, bukan baru ini saja. Malah terjadi puluhan tahun silam. Sejak memasuki masa industri rekaman melalui media piringan hitam pada 1950-an dan 1960-an, pita kaset (1970-1980-an), CD audio (1990-an), sampai era digital berformat MP3 (2000-an), pada prosesnya, musisi seolah terjangkit ”virus peniru” yang semakin lama semakin menggumpal bagai sebuah bola salju. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kemajuan di bidang industri komunikasi, memungkinkan orang dengan mudah menyimpan informasi, termasuk lagu-lagu kesukaan. Dampaknya, justru menjadi pemicu peniruan karya. Menurut Armahedi Mahzar dalam Resistensi Gaya Hidup: Teori dan Realitas (2006), ”kemungkinan besar penyimpanan informasi itu dalam konfigurasi jaringan sel-sel saraf di dalam otak bernama neuron. Nueron-nueron itu dalam sejarahnya dibantu oleh media penyimpanan informasi di luar tubuh manusia. Mulai dari lukisan dinding di gua, lembar-lembar papirus, buku-buku, pita rekaman, dan kini berupa disket, atau CD dan DVD.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bahkan sejak 2005, banyak orang menyimpan data menggunakan flashdisc, yang praktis dengan kapasitas penyimpanan berskala besar lalu dipindahkan ke komputernya. Maka itu pula, flashdisc dianggap memudahkan aksi copy paste. Akibatnya, terjadi penjiplakan karya musik, film, buku, dan karya ilmiah secara lebih mudah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lalu, yang menjadi persoalan, mengapa musisi tak juga jera untuk menjiplak? Padahal dikemudian hari, cepat atau lambat, bisa merusak citra dirinya di benak persepsi publik. Namun, jika merujuk pendapat Richard Dawkins, seorang biolog, mengenai fenomena jiplak-menjiplak atau niru-meniru lagu, mungkin kita bisa juga maklum. Dikatakan Dawkins, dalam The Selfish Gene (1976) pada sub judul; Memes: The New Replicators, produk budaya manusia bagai meme (baca: mim). Meme adalah sebuah replikator, makhluk yang memperbanyak diri. Meme diturunkan melalui transmisi budaya yaitu peniruan. Contoh-contohnya adalah, gagasan atau ide, ucapan populer, lagu, mode busana, cara-cara pembuatan keramik dan bangunan arsitektur, termasuk juga lelucon, kata-kata, gaya para komedian dan presenter di layar kaca. Lebih rinci Dawkins berpendapat, meme itu meloncat dari satu otak ke otak manusia lain melalui proses peniruan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Memperkuat pendapat Dawkins, Daniel Dennett, filsuf neo-darwinisme yang mempopulerkan konsep meme, secara provokatif menyatakan, manusia adalah monyet yang otaknya kejangkitan banyak meme. Meme itu semacam virus, yaitu virus pikiran. Dan istilah meme berkaitan dengan kata mimesis dari bahasaYunani, yang berarti meniru.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya, pendapat pakar di atas mengenai ”virus peniru” menjadi suatu kewajaran, ketika banyak orang juga melakukan suatu peniruan di berbagai bidang. Misalnya, jika ke mall dan super market, kita bakal menemukan sejumlah produk aspal (asli tapi palsu), antara lain, jam tangan, celana, baju, kaca mata, minyak wangi, air mineral botol, tas, dompet, dan banyak lagi. Namun, kemunculan produk-produk tersebut kurang menimbulkan protes, seolah masyarakat maklum. Lain jika di dunia seni dan sastra, dipastikan kritikan terlontar. Sebab, seni dan sastra adalah produk yang bertujuan untuk keindahan. Keindahan akan berkurang kadarnya, jika mengandung sesuatu yang mencemarkan produknya. Tak heran kritik bermunculan, saat masyarakat tahu, ternyata film Z menjiplak film X. Seperti kritik terhadap Ekskul, pemenang Festival Film Indonesia 2005, banyak kalangan mempertanyakan mengenai orisinalitas atas karya musik soundtrack-nya yang menjiplak Gladiator dan Munic. Begitu pun untuk produk musik, masyarakat akan bereaksi tatkala lagu tersebut ternyata hasil jiplakan. Seperti dialami band D’Massive, yang dituduh menjiplak dari karyanya kelompok Incubus, My Chemical Romance, Lifehouse, dan Swicthfoot. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lantas, apakah karya lagu yang dituduh menjiplak itu sebelum dilempar ke pasar diketahui eksekutif produser? ”Terus terang, saya tidak mengetahui jika lagu yang ada di album D’Massive dianggap masyarakat adalah lagu jiplakan. Tapi ini suatu kritik yang membangun buat D’Massive agar bisa berkarya jauh lebih baik lagi,” ungkap Indrawati Widjaja dari Musica Studio selaku Eksekutif Produser band D’Massive. Meski begitu, faktanya, ada juga beberapa produser nakal yang secara sengaja menyuruh musisi untuk melakukan penjiplakan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Berdasar catatan, sebagai perusahaan rekaman terbesar di Indonesia, Musica Studio bukan kali ini saja mengalami tuduhan penjiplakan terhadap artis musiknya. Lagu Hip Hip Hura dan Jumpa Pertama yang dinyanyikan Chrisye telah mengambil intro lagu Footloose (1984) karya Kenny Loggins dan melodi Morning Train (Nine To Five) yang dilantunkan Sheena Easton, 1981. Juga lagu dari Trio Libels berjudul Aku Suka Kamu (1990) telah mencangkok nuansa musik She Drive Me Crazy (1989) dari Fine Young Cannibals. Namun, sebetulnya yang perlu dicermati, tuduhan penjiplakan seharusnya tidak ditujukan kepada artis penyanyi atau eksekutif produser, tapi terhadap aranjer atau pencipta lagunya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Grup D’Massive memang tidak sendirian. Sebelumnya, ada beberapa grup band yang juga melakukan gaya copy paste. Band J-Rock dianggap menjiplak lagu-lagu dari L’Arc-en-Ciel dan Laruku dalam meramu sajian musiknya. Hal senada juga tertuju kepada nama-nama kondang sebagai plagiat, yaitu Fariz RM, Dorie Kalmas, Yongkie Suwarno, Dhani Ahmad, Slank, Melly Goeslaw, Bebi Romeo, Sheila On 7, Padi, Peter Pan, Ungu, Dewiq, dan masih banyak sederet nama lainnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tapi, inti persoalannya, menjiplak tidak sama dengan terinspirasi atau ter-influence/terpengaruh dalam arti meniru tanpa sadar (reminiscences/reminicenza). Terpengaruh dalam konteks ini, si musisi secara sadar mengagumi artis idolanya, seperti Fariz RM mengagumi Earth, Wind, and Fire dan Beegees, sehingga teknik bernyanyinya bergaya kopstem/falsetto. Begitu juga Dhani mengidolakan Led Zeppelin dan Queen, serta film The Godfather. Baik gaya maupun karya musiknya, sehingga secara otomatis aura sang idola melekat pada diri maupun karya ciptanya, juga memengaruhi penciptaan tipe hurufnya grup The Rock dan The Swinger. Menurut Japi Tambajong yang dikenal dengan nama Remy Silado dalam Ensiklopedi Musik 2 (1992), reminicenza diartikan sebagai suatu kekuatan ataupun kelemahan ingatan pada pendengaran atau penglihatan suatu karya seni, yang dengannya berkaitan rapat pengaruh dalam dunia penciptaan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Secara konotatif, musisi tidak menyadari karyanya tersebut terpengaruh, sehingga menjadi mirip dengan karya orang lain. Hal ini bisa saja dimungkinkan, karena si musisi pernah mendengar karya lagu tersebut sebelumnya dalam beberapa waktu lalu. Dan, ketika ia sedang mencipta lagu, tanpa disadarinya, tiba-tiba muncul kembali beberapa atau serangkain melodi/sound yang tersimpan dalam memori otaknya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Prinsipnya, menjiplak berbeda dengan terpengaruh atau reminiscence. Yang terpenting, si musisi bisa jujur mengenai karya ciptanya itu. Seperti halnya Madonna yang secara sengaja dan meminta izin kepada ABBA, ketika potongan intro lagu Gimme Gimme dijadikan intro untuk lagu Hung Up (2006). Atau Procol Harum secara terus terang mengakui ketika menyelipkan sebagian melodi Suite No. 3 in D Major dari karya Bach lewat lagu Whiter Shade of Pale (1967). Juga grup Konkan pada lagu Harry Houdini di dalam sampul kasetnya mencantumkan bagian lagu yang ditirunya, The Tide is High yang dinyanyikan Blondie. Dan yang membanggakan, belakangan, ada kesadaran beberapa musisi pop Indonesia, untuk mencantumkan judul lagu dan pencipta di sampul album sebagai hasil pengaruh atau mengambil karya lagu orang lain. Jika begitu, lalu sebenarnya apa tujuan para musisi melakukan penjiplakan? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;”Menurut saya, tujuannya karena ingin laku. Dan itu merupakan cara termudah untuk mencipta lagu. Tapi yang juga perlu dibedakan adalah perbedaan antara menjiplak dengan terpengaruh. Menjiplak itu kalo not atau melodinya persis sama. Tapi kalau cuma musiknya rada mirip dengan lagu yang ada, itu namanya terpengaruh. Sebab menjiplak itu memang disengaja. Sedangkan terpengaruh tidaklah disengaja. Karena si musisi tidak menyadari bahwa karyanya itu ternyata mirip dengan yang sudah ada,” jelas Andi Julias, salah satu produser dan musisi senior dari grup band Makara dan penggiat aliran musik progresif. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Musik pop yang telah menjadi bagian industri rekaman, dalam prosesnya semakin lama memang terdengar mirip satu dengan lainnya. Seperti dikutip Dominic Srinati (Popular Culture/2004), menurut Theodore Adorno dalam The Culture Industry (1991), ”Musik pop yang dihasilkan dari industri budaya didominasi oleh dua proses; standarisasi dan individualisasi semu. Dasar gagasannya adalah, bahwa lagu-lagu pop makin lama makin kedengaran mirip satu sama lain. Lagu-lagu itu semakin banyak dicirikan oleh struktur inti, yang bagian-bagiannya dapat dipertukarkan satu sama lain.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Detilnya, standarisasi merujuk pada kemiripan mendasar di antara lagu-lagu pop. Sedangkan individualisasi semu mengacu terhadap perbedaan-perbedaan yang sifatnya kebetulan. Standarisasi mendefinisikan cara bagaimana industri budaya mengatasi segala macam tantangan, orisinalitas, otentikitas, atau pun rangsangan intelektual dari musik yang dihasilkannya, sementara individualisasi semu memberikan ”umpannya”, keunikan atau kebaruan nyata dari lagu tersebut bagi konsumen. Standarisasi mengandung pengertian bahwa lagu-lagu pop makin mirip satu sama lain, dan bagian-bagian, bait-bait maupun kordnya semakin dapat saling dipertukarkan, sementara individualisasi semu menyamarkan proses ini dengan menjadi lagu-lagu itu semakin bervariasi dan berlainan satu sama lain. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, berkarya dalam semangat orisinalitas, masih tetap dimiliki oleh sebagian musisi pop Indonesia. Setidaknya, ajang supremasi musik pop Indonesia melalui AMI (Anugerah Musik Indonesia) 2009, telah memiliki komitmen yang patut dibanggakan. Seperti pernyataan Tere, vokalis dan salah satu tim kategorisasi AMI, 5 Maret 2009 di Jakarta, ”karya lagu yang masuk nominasi AMI semaksimalnya telah melalui selektivitas yang ketat. Dalam proses seleksi, kami terus terang banyak menemukan karya yang memiliki kecenderungan menjiplak.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Meski melalui proses selektivitas yang ketat, namun AMI juga kecolongan. Pasalnya, lagu-lagu karya D’Massive dituduh oleh sebagian besar masyarakat penuikmat musik pop Indonesia adalah lagu hasil jiplakan dari karya orang lain. ”Kami memang keciolongan,” jelas Seno M. Hardjo seperti dimuat Kompas edisi 26 April 2009. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Berkait dengan masalah penjiplakan/peniruan, mencoba merunut secara kronologis dapat ditemukan sejumlah karya lagu mirip yang berhasil terdektesi. Meniru atau menjiplak, bukan saja pada seluruh atau sebagian melodi lagu. Tapi juga pada warna sound, rhytm, intro, interlude, bridge, refrein/chorus, coda, dentuman bass, aransemen, dan lain sebagainya. Inilah catatannya :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Tog6MI3Dowg/Sh5P6MsL1MI/AAAAAAAAADA/W2loZgRtUvQ/s1600-h/tabel+lagu+ciplak+2.JPG"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; DISPLAY: block; HEIGHT: 240px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5340794069365544130" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_Tog6MI3Dowg/Sh5P6MsL1MI/AAAAAAAAADA/W2loZgRtUvQ/s320/tabel+lagu+ciplak+2.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Tog6MI3Dowg/Sh5P596U9KI/AAAAAAAAAC4/QYo8hXq0qks/s1600-h/tabel+lagu+ciplak+1.JPG"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; DISPLAY: block; HEIGHT: 240px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5340794065398330530" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_Tog6MI3Dowg/Sh5P596U9KI/AAAAAAAAAC4/QYo8hXq0qks/s320/tabel+lagu+ciplak+1.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3314902044199178265-633237784011766611?l=iustartanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iustartanto.blogspot.com/feeds/633237784011766611/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3314902044199178265&amp;postID=633237784011766611' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3314902044199178265/posts/default/633237784011766611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3314902044199178265/posts/default/633237784011766611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iustartanto.blogspot.com/2009/05/virus-peniru-menjangkiti-artis-musik.html' title='VIRUS PENIRU MENJANGKITI ARTIS MUSIK POP INDONESIA'/><author><name>IusTri Artanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10060232459359514792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Tog6MI3Dowg/Sh4qJpopkrI/AAAAAAAAABo/K8BYDBYNV-8/S220/IUS.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Tog6MI3Dowg/Sh5P6MsL1MI/AAAAAAAAADA/W2loZgRtUvQ/s72-c/tabel+lagu+ciplak+2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3314902044199178265.post-5031825786147910705</id><published>2008-06-15T07:51:00.000-07:00</published><updated>2008-06-15T07:52:10.381-07:00</updated><title type='text'>Coba</title><content type='html'>Tess&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3314902044199178265-5031825786147910705?l=iustartanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iustartanto.blogspot.com/feeds/5031825786147910705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3314902044199178265&amp;postID=5031825786147910705' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3314902044199178265/posts/default/5031825786147910705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3314902044199178265/posts/default/5031825786147910705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iustartanto.blogspot.com/2008/06/coba.html' title='Coba'/><author><name>IusTri Artanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10060232459359514792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Tog6MI3Dowg/Sh4qJpopkrI/AAAAAAAAABo/K8BYDBYNV-8/S220/IUS.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
